Jumat, 03 Januari 2014

Bahan bakar dari zat terlarang



Jember, 3 januari 2014. 19.30 WIB       

          Rasanya seperti ada sengatan listrik di otak dan jantungku, aku yang hidup 21 tahun ini tidak pernah semarah atau sebenci ini dengan orang lain,, oke,kamu boleh menyebutku berlebihan, biasanya aku hanya marah tentang kesalahanku,kesalahan orang disekitarku yang gak jauh-jauh dari tugas atau masalah ringan lainnya. Aku belum pernah ‘benci’ dalam arti yang sesungguhnya tapi kali ini semuanya berbeda.
          Aku marah, benci melihat perlakuan mereka kepada ibu, apakah tanpa ayah disisi kami kalian bisa seenaknya?! Pernahkah kalian bersikap seperti itu saat ayah ada,tidak?! Kalian munafik! Aku yang disini dengan bodohnya menghormati kalian tanpa tau perlakuan seperti apa yang diterima ibu selama ini. Dan aku menjadi lebih marah dan dongkol saat menyadari fakta bahwa akupun tak bisa berbuat apa-apa untuk merubah semua itu. Aku tak sekuat dirimu yah yang sanggup melindungi kami semua, aku yang sekarang hanya gadismu yang hanya mengerti tentang belajar! Bodoh! Aku tak punya uang atau kekuasaan untuk melindungi ibu dan adik dari mereka.
          Aku ingin menjadi dewasa secepat yang aku bisa,aku ingin menghasilkan uang sebanyak yang aku bisa, aku ingin menunjukkan kepada mereka aku adalah anak ayah yang ayah banggakan.
          Hatiku penuh dengan amarah saat ini,oke aku tau ayah tidak menyukai ini, tapi biarlah amarah ini tetap ada disini,dihati ini, menjadi bahan bakar untuk aku mencapai tujuan,tenang yah aku berjanji tak akan hidup dengan kebencian, tapi saat ini aku yang tanpa kekuatan apapun ‘meminjam’ kebencian untuk mencapai semuanya,biarlah mereka melihat kita bukan orang yang bisa seenaknya disakiti!

2 komentar: