Sabtu, 28 Desember 2013

Si Dopamin :)


            4-(2-amino etil) benzena-1,2-diol atau familiar disebut Dopamin merupakan salah satu neurotransmiter dalam otak kita yang di release dalam Hipotalamus. Sebenarnya tidak ada yang spesial dengan hormon ini,otak kita akan merelease hormon ini ketika dalam keadaan tertentu, lalu kenapa aku menulis tentang si Dopamin ini? mungkin karena akhir-akhir ini aku kebanyakan menghasilkannya *sotoy :p hahaha bukan apa-apa aku hanya merasakan efek dari si Dopamin beberapa hari belakangan ini, dan bukan hasil asupan dopamin secara peroral pastinya :)
Dopamin bekerja membantu mengontrol pusat kepuasan dan kesenangan di otak. Dopamin juga membantu mengatur tindakan dan tanggapan emosional, sehingga memungkinkan kita untuk tidak hanya mengapresiasi penghargaan, tetapi juga mengambil tindakan untuk meraihnya. wah hormon yang bagus ya? identik dengan semangat dan kebahagiaan? eits tunggu dulu...si dopamin ini juga memiliki efek negatif tau,dia ini menyebabkab efek candu, yup addict seperti cocain, ecstassy. trus kenapa kalo candu? baguskan bahagia trus? *mulai ngaco nih*
Kadar dopamin yang tinggi di otak diduga yang menyebabkan energi yang meluap-luap, berkurangnya kebutuhan tidur atau makan, dan perhatian yang terfokus serta perasaan senang (exquisite delight) atau berlebih terhadap berbagai hal kecil, kelebihan dopamin yang seperti ini yang tidak kita inginkan tapi ketika tubuh kita kekurangan si dopamin dapat menyebabkan penyakit Alzeimer, nah looo,,serba susah kan? Intinya, gak boleh berlebihan ya novi sama si Dopamin ini, gak boleh kurang :p dan jangan kebanyakan ;)
 Eh ini ada sedikit cerita tentang sejarah si Dopamin diambil dari bang @ryuhasan dengan gaya penulisan yang sedikit dirubah,semoga bermanfaat yaa..  
Fungsi dopamin sebenarnya diketahui tanpa sengaja. Ketika pada tahun 1954 James Olds & Peter Milner, menanamkan elektrode pada otak tikus, Penanaman elektrode pd tempat yg ‘tepat’ itupun bisa dikatakan kebetulan, karena waktu itu peta otak masih merupakan misteri.(*jaman itu anatomi dan fisiologi masih belum kayak sekarang ye,enak bgt gak perlu hapalan anatomi yg njlimet #plak #apasih). Si Om Olds-Milner memasukkan jarum tepat pada bagian yang sekarang dikenal sebagai nukleus accumben (Nacc), bagian otak yg ciptakan perasaan senang. Saat kita mendengar lagu kesukaan kita, atau nonton timnas bola favorit kita menang, Nacc lah yang membuat kita sangat gembira. Tapi dalam riset itu, Old & Milner juga menemukan bahwa kesenangan berlebihan dapat mengakibatkan kematian. Lho kok bisa?

            Ketika mereka memasukkan elektode ke otak beberapa tikus dan mengalirkan arus kecil ke elektrode tersebut, sehingga Nacc bekerja terus menerus,mereka menemukan bahwa si  tikus itu justru tak tertarik lagi pada apapun. Hewan-hewan itu tak mau makan ataupun minum. Perilaku seksualnya juga menurun, tikus-tikus itu hanya bergerombol disudut kandang dan dalam hitungan hari seluruh hewan itu mati (*yaiya orang kagak maem atau minum -__-“) saat itu ke dua om Olds-Milner gak bisa ngejelasin kenapa semua ini bisa terjadi (*maaf alay)

Akhirnya, para neurosaintis menemukan bahwa tikus-tikus itu mati karena kelebihan dopamin. Stimulasi Nacc memicu pelepasan neurotransmitter (dopamin) ini yang menyebabkan para tikus mengalami ekstase,kegembiraan yang luar biasa. Pada manusia, obat-obat adiktif bekerja dengan cara seperti itu. Pecandu yang meminum obat adiktif tidak berbeda dengan para tikus yang kelewat bahagia tadi. Otak makhluk-makhluk ini dibutakan oleh kesenangan dan  melupakan kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Keadaan ini kemudian diistilahkan sebagai dopaminergic.

Tapi,kesenangan bukan satu-satunya perasan yang dihasilkan si dopamin. Neurosaintis sekarang tahu si dopamin ini terlibat dalam seluruh emosi manusia dopamin lah yang mengatur, mulai dari timbulnya getaran asmara, sampai puncak rasa muak. Ini adalah sirkulasi neural yang biasa pada otak.Lebih dari itu, si dopamin adalah molekul yang berperan dalam hal kita mengambil keputusan dari alternatif-alternatif  yang tersedia pada suatu keadaan. Dengan mengamati cara kerja si dopamin di dalam otak, kita tahu mengapa perasan-perasaan (emosi) dapat memberikan pengetahuan yang tepat.


***


           

2 komentar:

  1. wah intinya harus bisa ngontrol dopamin yak,,
    salam kenal deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal bang :)
      iya, intinya balancing hormone aja haha :D

      Hapus