Sabtu pagi kuhabiskan seperti biasa ‘bermain’ dengan Chan sambil melihat hasil download yang belum sempat kulihat kemarin. Aish suara ibuk kembali muncul di dalam kamarku, kulirik jam ‘sudah jam 8 pantas saja ibuk mulai kesal denganku’ hahaha aku bukan baru bangun tidur, aku sudah bangun sejak subuh tadi hanya saja ibuk akan ‘selalu berisik’ sampai aku mandi dan menyelesaikan sarapanku. Araaa~ aku akan berangkat mandi sekarang!
Aku mengernyitkan mataku melihat banyak panggilan tak terjawab di hp saat kutinggal mandi, ini aneh 12 panggilan tak terjawab ‘budhe Lis’ ‘Mbak Iin Jkt’ ‘budhe Ema’ ini sungguh aneh pasti ada yang tidak beres, mereka semua tidak akan menelfonku hanya say hello, aku mendial no budhe, oh damn aku lupa no ku dalam masa tenggang mulai kemarin -__-’ tak lama layar hpku muncul panggilan dari budhe Lis
“hallo assalamualaikum, ada apa budhe, novi td ndag liat hp waktu budhe tlpn”
“novi posisi dimana? Sudah berangkat ke kantor?”
“ini sabtu budhe, klinik libur novi dirumah” budhe diam sesaat disebrang sana
" Vi, Pakde Tono meninggal tadi pagi jam setengah 8, budhe belum bisa pulang ke jombang hari ini, besok pagi baru menuju kesana, budhe jakarta juga kemungkinan sampai juga besok” aku terdiam
“kamu nanti kerumah pakdhe ya vi, paling tidak ada yang mewakili dari rumah” lanjut budhe, aku masih terdiam
“nggeh budhe”
“novi posisi dimana? Sudah berangkat ke kantor?”
“ini sabtu budhe, klinik libur novi dirumah” budhe diam sesaat disebrang sana
" Vi, Pakde Tono meninggal tadi pagi jam setengah 8, budhe belum bisa pulang ke jombang hari ini, besok pagi baru menuju kesana, budhe jakarta juga kemungkinan sampai juga besok” aku terdiam
“kamu nanti kerumah pakdhe ya vi, paling tidak ada yang mewakili dari rumah” lanjut budhe, aku masih terdiam
“nggeh budhe”
Aku masih dalam posisi yang sama, panggilan dari budhe sudah berakhir 5 menit yang lalu. Otakku masih mencerna semua yang dikatakan budhe, oh oke pakdhe meninggal, tidak aku sedang tidak menangis, aku hampir tidak punya memory menyenangkan denganya, bingung, itu yang kurasakan sekarang. Aku sebentar lagi harus kerumahnya, 24 tahun hidupku aku tidak pernah menginjakkan kakiku dirumahnya. Otakku terus berputar, astaga apa yang harus kulakukan sekarang, aku mulai bergerak kedapur mencari ibu dan menyampaikan berita dari budhe tadi. Beliau terdiam cukup lama dan kemudian menyuruhku bersiap untuk melayat, aku tidak menunjukkan wajah bingung sebisa mungkin aku menampilkan wajah datarku. Ibu bertanya dengan suara pelan apakah dia harus ikut kesana seperti bergumam tapi aku masih bisa mendengar suaranya “tidak perlu bu, cukup novi aja, ibuk dirumah saja”.
Ya, seperti dugaan kalian hubungan kami tidak terlalu bagus, lebih tepatnya, mereka tidak pernah menerima ibuku, entahlah sampai sekarang aku tidak tau alasannya, ibuku? Dia juga tidak tau apa kesalahannya. Lucu bukan? Hahaha. Dari semua saudara ayah hanya dia dan keluarganya yang seperti itu, jadi jangan heran jika kami tinggal satu kota tapi aku tidak pernah berkunjung kesana, aku hanya tau dia tinggal di daerah dekat sekolah yudha sekarang. Pikiranku melayang saat ayah meninggal, ya dia datang, untuk bertemu pakdhe dan budhe yang berkumpul dirumahku,tidak menghampiriku atau ibuku. Dia tidak pernah menyakitiku secara langsung tapi aku tau mereka menyakiti ibuku, meskipun setiap aku tanya ibuk selalu menyuruhku selalu menghormatinya. Aku selalu mencium tangan setiap bertemu denganya seperti yang selalu kulakukan pada pakdhe budheku yang lain. Tapi anaknya-sepupuku- aku tak pernah melihat dia mencium tangan ibu, menyapa saja aku belum pernah melihatnya. ah, aku juga tidak lupa istrinya -budheku- menolak saat aku menjabat tangannya. Terlebih setelah ayah tidak ada, yudha sering bercerita bagaimana dia membentak ibuku, sungguh saat itu aku yang masih kuliah hanya bisa mengertakkan gigi dan mengepalkan tangan, saat itu aku bertekat lebih kuat untuk menjadi benteng ibu dan adekku. Untuk itu aku harus berterimakasih padanya “bahan bakar terlarang” membuatku tak pernah lelah memperjuangkan targetku:)
Langit mendung sekarang, ibu mengigatkanku untuk membawa jas hujan. Aku mengiyakan dan berangkat sendiri. Sepanjang perjalanan aku berfikir, apa yang harus ku lakukan dsana?bagaimana kalo mereka mengabaikanku? Oh atau bahkan bagaimana kalo mereka mengusirku, oh tidak, kujauhkan semua isi kepalaku itu, mereka sedang berduka tak mungkin seperti itu. Sepanjang perjalanan aku mencoba mengingat wajah sepupuku mas tony dan mbak heny. Astaga terakhir aku ketemu saat aku kuliah dijember saat mereka berkunjung ke rumah budhe lis, tp aku masih mengingatnya. Kurasa.
Rumah kami tidak terlalu jauh, tidak sampai 10 menit harusnya aku sudah sampai, hanya saja aku menyetir dengan kecepat yang lebih pelan dari biasanya. Oh god! Aku sudah bisa melihat bendera kematian di depan rumahnya, aku memarkirkan motorku di depan rumah tetangga pakdhe. Sudah banyak orang berkumpul disana, aku bertanya memastikan itu rumahnya, mereka meng iya kan, jauh di dalam hatiku aku ingin mereka mengatakan bukan dan aku akan kembali kerumah dan bilang aku tidak dapat menemukan rumahnya, bodoh memang haha. Aku mulai memasuki pelataran rumahnya dan menaruh bawaan dari ibu ditempat yang disediakan. Aku hanya celingak celinguk, bingung banyak pintu disana, sampai seseorang melihatku aku tersenyum saat dia mengantarku ke pintu, dsana ada sebuah kamar ada wanita paruh baya sedang menangis -istrinya pakdhe- dan dikrubuti 4 orang gadis, menenangkan dan memeluknya. Wanita yang mengatarku tadi berhenti di depan pintu “ini temannya mas tony” mereka yg diruangan melirikku, aku meralat “bukan mbak, aku keponakan pakdhe” dengan senyum yang sedikit di paksakan. Aku hanya diam melihat wanita paru baya itu menangis, jarak kami tidak sampai 1 meter, dia melihatku tidak berkata apapun akupun sama lidahku keluh, aku tidak bisa mengatakan aku turut berduka dan berkata “Sabar” untuknya. Aku mulai sedikit panik apa yang kulakukan disini, setelah diam dan melihatnya cukup lama, aku membuka suara kepada mbak2 yang berada disana menanyakan keberadaan mbak heny, dia mengatakan kalo mbak heny keluar untuk menyiapkan keperluan pakdhe. Aku menganguk dan kembali duduk diruangan itu, menatapnya lagi.
Wajah wanita itu sayu penuh air mata, sangat berbeda dengan wajah yang kuingat selama ini, rasa iba muncul, wajahnya mengingatkan bagaimana saat ibu kehilangan ayah. Aku kembali terdiam, entah berapa lama aku diruangan itu, kemudian ada gadis melewatiku wajahnya familiar, oh tunggu itu mbak heny bukan? Pertanyaan itu berputar dikepalaku sambil mencocokan memory diotakku dengan gadis di depanku. Dia berkerudung sekarang, aku ragu sampai mbak dibelakangnya memanggilnya “hen” aku menajamkan telingaku, kurasa aku tak salah dengar. Dia meninggalkan ruangan, aku yakin mata kita bertemu, aku tersenyum dia mengabaikan senyumku dan berjalan keluar. Nyaliku menciut, aku tidak cukup tangguh untuk menerima penolakan. Aku melirik wanita paru baya itu lagi, tanpa suara aku keluar ruangan mengikuti mbak heny, kurasa aku masih bisa menghadapinya daripada berbicara dengan wanita itu. Entahlah mungkin mereka pikir aku tidak sopan, aku tidak peduli sekarang,
Aku sudah diluar ruangan saat ini, aku melihat mbak heny sibuk mengambil handuk, dan perlengkapan memandikan jenazah, aku mendekatinya. Tapi aku kembali duduk saat melihat dia sibuk berbicara dengan handphone nya ,setelah dia selesai aku melangkahkan kakiku mendekatinya persetan dengan apa yang akan terjadi, aku akan menyatakan bela sungkawa dan pulang secepatnya. Sekarang aku melihat wajahnya dari dekat, cantik pikirku, aku mengucapkan bela sungkawa dan menyampaikan pesan budhe untuk tidak menunggu siapapun karena mereka tidak ada yang bisa sampai jombang hari ini. Gadis di depanku mengiyakan -tangan kami masih berjabat tangan saat kita berbicara- dia mengatakan meminta maaf untuk kesalahan yang pakdhe buat, aku mengiyakan dan dia segera menyudahi obrolan singkat ini karena harus menyiapkan perlengkapan pakdhe aku menganguk dan berjalan keluar halaman. Aku berfikir mungkin menyenangkan mengobrol dengannya dia telihat bukan seperti gadis yang menyebalkan tadi, umurnya 2 tahun diatasku kalo aku tidak salah mengingat. Percakapan tadi adalah percakapan pertama kita, kurasa dia tidak buruk.
Mataku bertemu dengan pria di pintu yang berbeda, dia terlihat kusut. Aku ingat dia mas tony, biasanya dia terlihat -sedikit- tampan dengan tubuh tinggi dan tampilan rapi. Aku terus berjalan menuju motorku. Oke aku sudah duduk dimotorku, sekarang kembali bingung, aku pulang sekarang? Tidak apa bukan, aku sudah menyampaikan pesan budhe. Tapi masih ada yang mengganjal. Aku kembali memasuki halaman rumahnya *aku meruntuki kebodohanku- apa yg kau lakukan nyop! Aku mencari mas tony, ya aku merasa buruk jika tidak berpamitan dengannya setidaknya dia sepupuku, tidak peduli bagaimana ibunya selalu berlaku kasar pada ibukku, setidaknya dia dan mbak heny tidak pernah melakukannya pada ibu. Aku sudah di depannya sekarang aku menjabat tangannya dan mengulang perkataan sama seperti yang kukatakan kepada adiknya, dia tersenyum dan berkata terimakasih serta meminta maaf untuk kesalahan yang pernah dibuat almarhum ayahnya, aku tersenyum dan pamit *lagi
Oke kali ini aku akan benarbenar pulang. Sebenarnya aku masih ingin tinggal, bukan kah ketika saudara kalian meninggal kalian akan menemani sampai diberangkatkan keperistirahatan terakhir dan kembali menghibur keluar yg di tinggalkan? Aku butuh orang dewasa sekarang, setidaknya jika ada mereka aku akan ikut menemani disana. Sekarang aku sendirian, dan dirumah itu tadi aku tak mengenal siapapun selain yang kuceritakan tadi. Aku benar-benar merasa sesak disana, seperti orang hilang tidak ada yang ‘melihat’ keberadaanku. Oke mungkin aku berlebihan :’) harus kah aku menunggu di kursi tadi? Tidak2 ini akan terlihat sangat aneh. Aku menyalakan motor dan beranjak pulang.
Sebenarnya aku tidak ingin pulang, mataku sekarang sembab, ntahlah sejak kapan aku ikut menangis dsana, sejak melihat wanita itu kah? Saat bersalaman dengan sepupuku? Entahlah aku meruntuki kebodohanku, ini terlihat lemah. Aku tidak menyukainya dan aku tidak mau ibu melihat mata sembab ini saat aku dirumah, aku memarkirkan motorku dipinggir jalan,di depan SMAku hahaha aku tipikal orang yang bingung dijalan jika tidak memiliki tujuan yang jelas, hah khas anak rumahan kalo mengutip kalimat mayang saat mengataiku. Ah mayang, rumahnya dekat dr sini tp ini sabtu dia masih di puskesmas jam segini. Aku mengeluarkan hpku, sedikit terkejut melihat panggilan tak terjawab dari budhe lis, ada apa lagi ini. Aku memutar motorku menuju konter dan membeli pulsa - ingat no ku masih dalam masa tenggang- dan kemudain mendial no budhe, budhe menanyakan posisiku aku menjawab di rumah pakdhe dan sekarang keluar beli pulsa untuk menghubungi budhe. -oke aku sedikit berbohong tapii aku memang dr rumah pakdhe kan 5 menit yg lalu- budhe melanjutkan mengingatkan pesannya untuk disampaikan, aku menjawab dengan cepat kalo sudah kusampaikan meskipun kusampaikan ke mas tony dan mbak heny bukan ke ibunya. Budhe mengiyakan dan berterimakasih sebelum menutup teleponnya. Sekarang aku terdiam, yang kulakukan sekarang tidak akan mengecewakan siapapun bukan? Aku mencoba menghubungi koko, tidak terjawab. Mungkin dia sedang sibuk. Aku mendial no akak, ah dia sedang bekerja bukan tapi dia mengangkatnya. Aku bingung akan berkata apa dan hanya menanyakan apakah dia bekerja, percakapan kami hanya sebentar dan kemudian aku menutup panggilanku.
Kulirik langit mulai menjatuhkan air, ah gerimis aku harus cepat pulang. Aku beranjak pergi, ternyata gerimis td hanya sebentar. Langit masih mendung tapi tidak hujan. Aku putuskan untuk mengunjungi ayah, aku tidak membeli bunga hanya duduk disana membersihkan makam ayah, haaah~ aku yakin ayah memperhatikanku dari tadi, jadi aku tidak akan bercerita ulang padamu yah. Aku rindu, sungguh. Aku melakukan hal baik bukan hari ini?
Langit semakin gelap dan aku pulang.
Panjang sekali ya tulisanku? Intinya apa? Tidak ada. Aku hanya menceritakan yang kulalui hari ini, lega? Ehm kurasa iya. Hahaha Akak sedang sibuk dengan pekerjaannya, Koko juga sibuk dengan skripsinya. Ibu? Kurasa aku tidak akan membagi cerita linglung g jelasku ini dengannya. Tya? Mungkin nanti saat dia pulang ke rumah. Menceritakan ini lewat bbm atau wa akan sangat panjang bukan, yang jelas aku sekarang merasa lebih baik. Kenapa ditulis disini? Entahlah aku hanya ingin dan kurasa akan sangat sedikit kemungkinan orang lain membaca tulisan panjang tanpa poin ini.