4-(2-amino
etil) benzena-1,2-diol atau familiar disebut Dopamin merupakan salah satu neurotransmiter dalam otak kita yang di release dalam Hipotalamus. Sebenarnya
tidak ada yang spesial dengan hormon ini,otak kita akan merelease hormon ini
ketika dalam keadaan tertentu, lalu kenapa aku menulis tentang si Dopamin ini?
mungkin karena akhir-akhir ini aku kebanyakan menghasilkannya *sotoy :p hahaha
bukan apa-apa aku hanya merasakan efek dari si Dopamin beberapa hari belakangan
ini, dan bukan hasil asupan dopamin secara peroral pastinya :)
Dopamin bekerja membantu
mengontrol pusat kepuasan dan kesenangan di otak. Dopamin juga membantu
mengatur tindakan dan tanggapan emosional, sehingga memungkinkan kita untuk
tidak hanya mengapresiasi penghargaan, tetapi juga mengambil tindakan untuk
meraihnya. wah hormon yang bagus ya? identik dengan semangat dan kebahagiaan?
eits tunggu dulu...si dopamin ini juga memiliki efek negatif tau,dia ini
menyebabkab efek candu, yup addict seperti cocain, ecstassy. trus kenapa kalo
candu? baguskan bahagia trus? *mulai ngaco nih*
Kadar dopamin yang tinggi di
otak diduga yang menyebabkan energi yang meluap-luap, berkurangnya kebutuhan
tidur atau makan, dan perhatian yang terfokus serta perasaan senang (exquisite delight)
atau berlebih terhadap berbagai hal kecil, kelebihan dopamin yang seperti ini
yang tidak kita inginkan tapi ketika tubuh kita kekurangan si dopamin dapat
menyebabkan penyakit Alzeimer, nah looo,,serba susah kan? Intinya, gak boleh
berlebihan ya novi sama si Dopamin ini, gak boleh kurang :p dan jangan
kebanyakan ;)
Eh ini ada sedikit cerita tentang sejarah si Dopamin diambil dari bang @ryuhasan dengan gaya penulisan yang sedikit dirubah,semoga bermanfaat yaa..
Fungsi
dopamin sebenarnya diketahui tanpa sengaja. Ketika pada tahun 1954 James Olds
& Peter Milner, menanamkan elektrode pada otak tikus, Penanaman elektrode
pd tempat yg ‘tepat’ itupun bisa dikatakan kebetulan, karena waktu itu peta
otak masih merupakan misteri.(*jaman itu anatomi dan fisiologi masih belum
kayak sekarang ye,enak bgt gak perlu hapalan anatomi yg njlimet #plak #apasih).
Si Om Olds-Milner memasukkan jarum tepat pada bagian yang sekarang dikenal
sebagai nukleus accumben (Nacc), bagian otak yg ciptakan perasaan senang. Saat
kita mendengar lagu kesukaan kita, atau nonton timnas bola favorit kita menang,
Nacc lah yang membuat kita sangat gembira. Tapi dalam riset itu, Old &
Milner juga menemukan bahwa kesenangan berlebihan dapat mengakibatkan kematian.
Lho kok bisa?
Ketika mereka memasukkan elektode ke
otak beberapa tikus dan mengalirkan arus kecil ke elektrode tersebut, sehingga
Nacc bekerja terus menerus,mereka menemukan bahwa si tikus itu justru tak tertarik lagi pada
apapun. Hewan-hewan itu tak mau makan ataupun minum. Perilaku seksualnya juga
menurun, tikus-tikus itu hanya bergerombol disudut kandang dan dalam hitungan
hari seluruh hewan itu mati (*yaiya orang kagak maem atau minum -__-“) saat itu
ke dua om Olds-Milner gak bisa ngejelasin kenapa semua ini bisa terjadi (*maaf
alay)
Akhirnya,
para neurosaintis menemukan bahwa tikus-tikus itu mati karena kelebihan
dopamin. Stimulasi Nacc memicu pelepasan neurotransmitter (dopamin) ini yang
menyebabkan para tikus mengalami ekstase,kegembiraan yang luar biasa. Pada
manusia, obat-obat adiktif bekerja dengan cara seperti itu. Pecandu yang meminum
obat adiktif tidak berbeda dengan para tikus yang kelewat bahagia tadi. Otak
makhluk-makhluk ini dibutakan oleh kesenangan dan melupakan kebutuhan-kebutuhan dasarnya.
Keadaan ini kemudian diistilahkan sebagai dopaminergic.
Tapi,kesenangan
bukan satu-satunya perasan yang dihasilkan si dopamin. Neurosaintis sekarang
tahu si dopamin ini terlibat dalam seluruh emosi manusia dopamin lah yang
mengatur, mulai dari timbulnya getaran asmara, sampai puncak rasa muak. Ini
adalah sirkulasi neural yang biasa pada otak.Lebih dari itu, si dopamin adalah
molekul yang berperan dalam hal kita mengambil keputusan dari
alternatif-alternatif yang tersedia pada suatu keadaan. Dengan mengamati cara kerja si dopamin di dalam otak, kita tahu
mengapa perasan-perasaan (emosi) dapat memberikan pengetahuan yang tepat.
***