Kepalaku
penuh dengan berbagai pikiran ketika aku membuka mata pagi ini, aku sedang
berfikir apa saja yang telah kulakukan selama ini. Pikiran yang terlalu ‘berat’ untuk memulai hari di subuh
ini,sudahlah ku putuskan untuk beranjak dari kasurku dan kekamar mandi, setelah
selesai dengan semua rutinitasku seperti biasa aku menyalakan laptopku,
mengecek e-mail, membuka materi untuk kuliah pagi ini,menata buku dan chek list
yang harus ku bawa pagi ini.
***
Kulirik hpku jam
6.30, biasanya sekarang aku akan bergegas berangkat ke kampus,tapi yang
kulakukan hanya duduk di kasur dan memainkan bonekaku. Kulirik jam tanganku jam
07.00 kelas akan segera di mulai. aku berdiri mengambil tas yang sudah
kusiapkan tadi pagi,aku mengeluarkan semua isinya,ku abaikan paket kuliah dan
perlengkapanku berserakan di atas kasur. Aku mengambil heatset dan satu buku
catatan kecil dan memasukkan kedalam tasku kemudian bergegas berangkat ke
kampus. Tentu saja ketika aku datang kelas sudah di mulai ,aku memilih bangku
belakang pojok kanan. Ternyata hal itu menyita perhatian beberapa temanku .
“kok tumben kamu dibelakang? Biasanya
kan di depan..” hanya kujawab dengan senyum.
Dari
bangku ini kulihat kelas yang tidak pernah kulihat, di bangku depan tempatku
biasanya duduk terlihat teman-teman dekatku sedang sibuk mencatat dan aktif
bertanya di sela-sela kuliah. Deretan tengah ada beberapa anak-anak rajin yang mencatat dalam diam,ada
yang sibuk dengan laporan praktikum, ada yang sibuk menghafal materi diskusi untuk mata kuliah lain. Mereka semua
terlihat tanpa ekspresi dengan kesibukan masing-masing. Apakah aku juga seperti
mereka biasanya? Sedangkan deretan belakang tempatku duduk saat ini ada
beberapa yang sedang menyimak dosen, ada yang asik dengan gadgetnya sendiri, ada
yang hanya sibuk bercerita tentang ini itu. Semua terlihat monoton dan
membosankan dari bangkuku ini, kupasang heatsetku dengan volume lagu
maksimum,aku jenuh. Bagaimana bisa setiap hari aku duduk di depan sana dengan
bersemangat dalam rutinitasku kuliah-pretest-praktikum-laporan-tugas-jurnal dan
kembali lagi ke awal. Dilihat dari sini itu semua begitu memuakkan,apa yang
salah denganku pagi ini atau apa yang salah denganku selama ini yang hidup
dalam ‘sistem’ seperti itu? Kulirik jam tanganku 8.30,haah! 10 menit lagi
kelasku akan berakhir.
Setelah
kelas berakhir kuputuskan untuk keluar ruangan, meskipun 20 menit lagi masih
ada kelas berikutnya. Salah satu sahabatku mendekat mengikutiku keluar kelas.
“mau ke kantin? Kamu kok telat
sih..bukannya tadi kamu mandi awal kayak biasanya?” selidiknya sambil berjalan disampingku
“ndak ini mau ke lab bio, biasa
ekstrak menanti..kamu mau ke kantin kan? Aku duluan ya,kalo ada dosen sms ,,” ucapku
cepat,takut terlihat berbohong kemudian berjalan cepat bukan kearah laboratorium
biologi tapi kearah parkiran,mengambil motor dan keluar dari kampus ini
secepatnya,ya terlalu penat disini.
***
Setelah
berputar-putar tanpa tujuan aku
memutuskan untuk berhenti di sebuah warung es buah di daerah yang lumayan jauh
dari kampus. Minum sendirian seperti ini hampir tidak pernah kulakukan dan
ternyata rasanya tidak terlalu buruk. Setelah lama duduk disana perhatianku
tersita melihat anak laki-laki di pos samping warung yang sedang sibuk
merapikan botol plastik bekas,bukan hal aneh melihat anak seumurannya menjadi
‘pengumpul’ botol di daerah sini,yang menyita perhatianku anak laki-laki itu
memakai seragam merah putih lengkap dengan sepatu dan tasnya. Kulirik jam
tanganku hampir jam sebelas siang,bukankah sekarang masih jam sekolah? atau
mungkin dia sedang ‘meliburkan diri’ sepertiku? Apakah dia juga jenuh dengan
rutinitasnya, ah tidak,tidak mungkin dengan kesibukannya sekarang sepertinya
bukan itu alasannya.
Segera
kuhabiskan minumanku dan memesan satu bungkus es lalu menghampiri anak
laki-laki tadi, aku hanya ingin mengobrol dengannya untuk menghabiskan waktu ‘luang’ku
ini. Setelah mendekat menawarkan es sambil berkenalan namanya Danu kelas 4 SD,aku
menikmati perbincangan ringan dengannya,dia mengingatkanku pada adikku dirumah.
“kamu bolos Nu,jam segini kok gak
disekolah?”
“Ngece..aku
gak pernah bolos sekolah.” ucapnya sedikit tidak terima dengan label ‘bolos’
yang kulontarkan. aku tersenyum mendengar jawabannya.
“trus kamu lagi ngapain ini kok gak di
sekolah,hayo..” cletukku menggoda Danu
“Sekolah siang mbak,nanti jam 1 waktu
anak Negri sudah pulang baru aku bisa
sekolah,maklum nunut sekolah e..”
jawabnya sambil menyebut nama sekolahnya.
Kami
mengobrol cukup lama dari perbincangan singkat ini aku tau Danu membantu ibunya
yang mencari tambahan uang dengan mengumpulkan botol-botol bekas sebelum
berangkat ke sekolah siangnnya. Danu selalu menjadi juara 1 disekolah,dia anak
yang cerdas terlihat dari cara berbicaranya ,sayang dia tidak seberuntung
anak-anak seusianya yang hanya memikirkan belajar dan bermain. Dia begitu
bersemangat bertanya tentang kuliah,baginya itu merupakan salah satu ‘impian’.
“Nanti aku mau ngumpulin botol yang
banyak mbak,biar bisa buat Nempur
beras ibu sama tak tabung,aku nanti juga mau kuliah kayak mbak,aku mau jadi pak
guru ngajarin anak-anak Amen biar
bisa baca semua ”ucapnya dengan bersemangat.
***
Sekarang
aku sedang duduk dikamar memainkan bonekaku,mengingat si kecil Danu yang
semangat belajarnya tetap tinggi dengan keadaan yang seadanya. Celoteh cerianya
tentang cita-cita siang tadi menjadi ‘tamparan’ panas untukku. Semua itu
membuatku berfikir ulang tentang semua yang kulakukan,aku hanya sibuk
memperhatikan kebosananku dengan rutinitas tanpa ingat rutinitas ini
adalah jalan yang kupilih untuk menjadi
orang yang ‘besar’ nanti. Ingin menggapai mimpiku tapi enggan dengan kenyataan
yang harus kulalui,bagaimana mungkin bisa? Saat ini aku merasa tidak lebih
pintar dari anak kelas 4 SD,payah.
Aku
melirik foto pria diatas meja kamarku. Pria yang selalu kurindukan,aku kembali
mengingat ucapannya padaku saat aku memulai jalanku ini.
“Nduk..
diantara kamu dan Impianmu tidak ada apapun atau siapapun yang menghalanginya
kecuali Tekatmu untuk mencoba dan Keyakinanmu bahwa Impianmu akan terwujud.”
Aku
mengumpulkan energi positif dari Danu dan Pria terhebatku. Bukankah kita memang
tidak bisa memiliki kehidupan yang positif dengan pikiran yang negatif ? yang
perlu kulakukan sekarang hanya mengubah pola pikirku tentang semua ini. Ya
semuanya akan baik baik saja dengan
rutinitas apapun jika aku melakukannya karena ingin bukan paksaan.
Terimakasih
guru kecilku, kau membantuku untuk menyadari ‘kesalahan’ ini sebelum semua
terlalu jauh.
***