Selasa, 18 Maret 2014

Hari yang berbeda

          Kepalaku penuh dengan berbagai pikiran ketika aku membuka mata pagi ini, aku sedang berfikir apa saja yang telah kulakukan selama ini. Pikiran yang terlalu  ‘berat’ untuk memulai hari di subuh ini,sudahlah ku putuskan untuk beranjak dari kasurku dan kekamar mandi, setelah selesai dengan semua rutinitasku seperti biasa aku menyalakan laptopku, mengecek e-mail, membuka materi untuk kuliah pagi ini,menata buku dan chek list yang harus ku bawa pagi ini.
***
Kulirik hpku jam 6.30, biasanya sekarang aku akan bergegas berangkat ke kampus,tapi yang kulakukan hanya duduk di kasur dan memainkan bonekaku. Kulirik jam tanganku jam 07.00 kelas akan segera di mulai. aku berdiri mengambil tas yang sudah kusiapkan tadi pagi,aku mengeluarkan semua isinya,ku abaikan paket kuliah dan perlengkapanku berserakan di atas kasur. Aku mengambil heatset dan satu buku catatan kecil dan memasukkan kedalam tasku kemudian bergegas berangkat ke kampus. Tentu saja ketika aku datang kelas sudah di mulai ,aku memilih bangku belakang pojok kanan. Ternyata hal itu menyita perhatian beberapa temanku .
“kok tumben kamu dibelakang? Biasanya kan di depan..” hanya kujawab dengan senyum.
          Dari bangku ini kulihat kelas yang tidak pernah kulihat, di bangku depan tempatku biasanya duduk terlihat teman-teman dekatku sedang sibuk mencatat dan aktif bertanya di sela-sela kuliah. Deretan tengah ada beberapa  anak-anak rajin yang mencatat dalam diam,ada yang sibuk dengan laporan praktikum, ada yang sibuk menghafal materi  diskusi untuk mata kuliah lain. Mereka semua terlihat tanpa ekspresi dengan kesibukan masing-masing. Apakah aku juga seperti mereka biasanya? Sedangkan deretan belakang tempatku duduk saat ini ada beberapa yang sedang menyimak dosen, ada yang asik dengan gadgetnya sendiri, ada yang hanya sibuk bercerita tentang ini itu. Semua terlihat monoton dan membosankan dari bangkuku ini, kupasang heatsetku dengan volume lagu maksimum,aku jenuh. Bagaimana bisa setiap hari aku duduk di depan sana dengan bersemangat dalam rutinitasku kuliah-pretest-praktikum-laporan-tugas-jurnal dan kembali lagi ke awal. Dilihat dari sini itu semua begitu memuakkan,apa yang salah denganku pagi ini atau apa yang salah denganku selama ini yang hidup dalam ‘sistem’ seperti itu? Kulirik jam tanganku 8.30,haah! 10 menit lagi kelasku akan berakhir.
          Setelah kelas berakhir kuputuskan untuk keluar ruangan, meskipun 20 menit lagi masih ada kelas berikutnya. Salah satu sahabatku mendekat mengikutiku keluar kelas.
“mau ke kantin? Kamu kok telat sih..bukannya tadi kamu mandi awal kayak biasanya?” selidiknya sambil berjalan  disampingku
“ndak ini mau ke lab bio, biasa ekstrak menanti..kamu mau ke kantin kan? Aku duluan ya,kalo ada dosen sms ,,” ucapku cepat,takut terlihat berbohong kemudian berjalan cepat bukan kearah laboratorium biologi tapi kearah parkiran,mengambil motor dan keluar dari kampus ini secepatnya,ya terlalu penat disini.
***
          Setelah berputar-putar tanpa tujuan  aku memutuskan untuk berhenti di sebuah warung es buah di daerah yang lumayan jauh dari kampus. Minum sendirian seperti ini hampir tidak pernah kulakukan dan ternyata rasanya tidak terlalu buruk. Setelah lama duduk disana perhatianku tersita melihat anak laki-laki di pos samping warung yang sedang sibuk merapikan botol plastik bekas,bukan hal aneh melihat anak seumurannya menjadi ‘pengumpul’ botol di daerah sini,yang menyita perhatianku anak laki-laki itu memakai seragam merah putih lengkap dengan sepatu dan tasnya. Kulirik jam tanganku hampir jam sebelas siang,bukankah sekarang masih jam sekolah? atau mungkin dia sedang ‘meliburkan diri’ sepertiku? Apakah dia juga jenuh dengan rutinitasnya, ah tidak,tidak mungkin dengan kesibukannya sekarang sepertinya bukan itu alasannya.
          Segera kuhabiskan minumanku dan memesan satu bungkus es lalu menghampiri anak laki-laki tadi, aku hanya ingin mengobrol dengannya untuk menghabiskan waktu ‘luang’ku ini. Setelah mendekat menawarkan es sambil berkenalan namanya Danu kelas 4 SD,aku menikmati perbincangan ringan dengannya,dia mengingatkanku pada adikku dirumah.
“kamu bolos Nu,jam segini kok gak disekolah?”
Ngece..aku gak pernah bolos sekolah.” ucapnya sedikit tidak terima dengan label ‘bolos’ yang kulontarkan. aku tersenyum mendengar jawabannya.
“trus kamu lagi ngapain ini kok gak di sekolah,hayo..” cletukku menggoda Danu
“Sekolah siang mbak,nanti jam 1 waktu anak Negri sudah pulang baru aku bisa sekolah,maklum nunut sekolah e..” jawabnya sambil menyebut nama sekolahnya.
          Kami mengobrol cukup lama dari perbincangan singkat ini aku tau Danu membantu ibunya yang mencari tambahan uang dengan mengumpulkan botol-botol bekas sebelum berangkat ke sekolah siangnnya. Danu selalu menjadi juara 1 disekolah,dia anak yang cerdas terlihat dari cara berbicaranya ,sayang dia tidak seberuntung anak-anak seusianya yang hanya memikirkan belajar dan bermain. Dia begitu bersemangat bertanya tentang kuliah,baginya itu merupakan salah satu ‘impian’.
“Nanti aku mau ngumpulin botol yang banyak mbak,biar bisa buat Nempur beras ibu sama tak tabung,aku nanti juga mau kuliah kayak mbak,aku mau jadi pak guru ngajarin anak-anak Amen biar bisa baca semua ”ucapnya dengan bersemangat.
***
          Sekarang aku sedang duduk dikamar memainkan bonekaku,mengingat si kecil Danu yang semangat belajarnya tetap tinggi dengan keadaan yang seadanya. Celoteh cerianya tentang cita-cita siang tadi menjadi ‘tamparan’ panas untukku. Semua itu membuatku berfikir ulang tentang semua yang kulakukan,aku hanya sibuk memperhatikan kebosananku dengan rutinitas tanpa ingat rutinitas ini adalah  jalan yang kupilih untuk menjadi orang yang ‘besar’ nanti. Ingin menggapai mimpiku tapi enggan dengan kenyataan yang harus kulalui,bagaimana mungkin bisa? Saat ini aku merasa tidak lebih pintar dari anak kelas 4 SD,payah.
          Aku melirik foto pria diatas meja kamarku. Pria yang selalu kurindukan,aku kembali mengingat ucapannya padaku saat aku memulai jalanku ini.
Nduk.. diantara kamu dan Impianmu tidak ada apapun atau siapapun yang menghalanginya kecuali Tekatmu untuk mencoba dan Keyakinanmu bahwa Impianmu akan terwujud.”
          Aku mengumpulkan energi positif dari Danu dan Pria terhebatku. Bukankah kita memang tidak bisa memiliki kehidupan yang positif dengan pikiran yang negatif ? yang perlu kulakukan sekarang hanya mengubah pola pikirku tentang semua ini. Ya semuanya akan  baik baik saja dengan rutinitas apapun jika aku melakukannya karena ingin bukan paksaan.
          Terimakasih guru kecilku, kau membantuku untuk menyadari ‘kesalahan’ ini sebelum semua terlalu jauh.
***

Lilin kecilku

Sekarang aku sedang menahan rasa mual yang bergejolak dalam perutku setelah beberapa kali muntah,aku benci setelah keluar dari ruangan itu,kepalaku berdenyut semakin sakit, rasa mual ini susah sekali di tahan,aku ingin sekali menangis sekeras-kerasnya, tapi aku takut itu semua akan membuat ibu semakin sedih, wajahnya saja terlihat sangat lelah sekarang. Sekarang yang harus kulakukan adalah mencoba menghentikan air mataku yang hampir jatuh dan mencoba tersenyum dengan mulutku yang terasa pahit,sungguh ini menyiksa. Aku sedikit lega ketika perawat datang dan menyuntikkan obat , sebentar lagi aku akan tertidur dan melupakan rasa sakit ini lebih cepat.
Aku terbangun terusik dengan rasa nyeri di tanganku setelah memastikan perutku sudah baik-baik saja,aku membuka mata dengan tersenyum,saat itu pertama kalinya aku melihatmu berdiri mengintip di pintu kamar, anak laki-laki seumuran denganku yang memakai pakaian rumah sakit dengan gelang biru melingkar di tangan kanan,sepertinya satu bangsal denganku.
“aku Erga,kamu baru ya disini?” ucapnya sambil mendekat ke bedku,dua lesung pipit langsung terlihat ketika dia tersenyum.
“Vivi,sudah 1 minggu disini,kamu sejak kapan?” ucapku balas memperkenalkan diri
“yang jelas lebih lama dari kamu,hehehe.. kamu tadi siang habis dari ruangan ‘itu’ ya? Hebat banget kamu gak nangis,ini biar gak mual lagi” ucapnya ringan sambil menyodorkan permen lolipop berbentuk hati.
Sejak saat itu kita menjadi teman yang akrab,rumah sakit bukan lagi tempat yang membosankan untukku,kadang kita main polisi dan penjahat, detektif dan pembunuh,hari-hari itu begitu menyenangkan. Kita bermain seperti anak-anak pada umumnya,kau membuatku tidak merasa berbeda. Bahkan ketika aku akan menerima pengobatanku itu tidak terlalu mengerikan seperti dulu karena pasti ada kamu yang membawa permen menunggu di bedku. Ketika ayah dan ibu sedang bekerja itu bukan lagi hal yang ku benci karena aku bisa bermain sepuasnya denganmu. Kita sering mengusili para perawat dengan bersembunyi ditempat rahasia saat mereka akan memasang infus kita, rasa sakitku menjadi berkurang saat aku bermain denganmu.
Siang itu aku sedang duduk di bangku taman dekat kamarku,tentu saja dengan Erga disampingku. Hari ini Erga lebih pucat, tapi tetap bersemangat seperti biasanya.
“Ga,kamu ga papa,kok pucet banget sih,demam ya?”ucapku sambil memegang kepalanya.
“Vi,apa cita-citamu saat kamu besar nanti?”ucapnya cuek mengabaikan pertanyaanku.
“ehmm,aku pengen bikin obat yang bisa nyembuhin semua orang sakit di dunia ini,jadi gak ada yang sakit lagi,yang jelas obatnya gak bikin mual hehe,,kalo kamu Ga?”
“Aku pengen jadi pilot,aku mau keliling dunia sepuasnya,kamu tau ada benua amerika, eropa,afrika disana berbeda sekali dengan di Indonesia aku ingin berkunjung ke semua tempat itu saat aku dewasa” jawabnya bersemangat.
“waktu kamu keliling dunia aku ikut ya,nanti aku mau buatin kamu obat yang bikin kamu gak sakit selamanya.”
“iya kita nanti keliling dunia bareng” ucapnya tenang dengan lesung pipit yang muncul di wajahnya.

Minggu ini aku tak bisa banyak bermain seperti biasanya,kondisi badanku mulai drop, pengobatanku biasanya 2 kali seminggu sekarang menjadi 3 kali,rasa mual selalu bergejolak dalam perutku,rambutku pun tak setebal dulu,sekarang aku lebih banyak murung dan meringkuk di bedku. Aku lebih sensitif dan sering marah,bahkan ajakan bermain dengan Erga pun ku abaikan. Saat itu aku merasa tidak adil,kenapa harus aku? Kenapa yang lain bisa ke sekolah bermain sepuasnya,sedangkan aku terkurung disini,aku ingin protes tapi pada siapa, yang kulakukan hanya meruntuki keadaanku,aku tidak mau ditemani siapapun dalam kamarku bahkan ayah atau ibuku, aku ingin pulang kerumah saat itu juga, sungguh.
Saat ayah dan ibu berangkat ke kantor kamarku sepi hanya aku yang terduduk di atas bedku, darah segar mengucur dari hidungku, aku panik karena mimisanku tidak segera berhenti, aku mulai menangis antara takut dan capek dengan keadaan ini,muncul Erga yang sudah duduk disampingku, dia dengan cepat memberi tisu dan menekan bagian bawah tulang hidungku 5 menit kemudian mimisanku berhenti tapi tangisku masih sesengukan.
“sudah,berhenti nangisnya,nanti malah keluar lagi darahnya..”ucapnya menenangkan.
“biarin,biar sekalian habis darahnya mati sekarang atau besok sama saja” gumamku
“hey berhentilah menjadi gadis yang menyebalkan,memangnya kenapa kalo kamu sakit? Jangan hanya bisa merengek itu menyebalkan..”
aku tertegun mendengar ucapan Erga,semua selalu memanjakanku,tidak ada yang memperlakukanku seperti Erga. Sejak aku sakit bersikap seperti apapun tidak menjadi masalah,semua akan mengalah. Sedikit sebal dan senang dengan perlakuannya padaku,saat itu aku hanya bisa diam.
“ kamu belum mati,jangan hidup seperti orang mati..orang menganggap hidup mereka akan berakhir saat umur mereka tua tapi umur itu yang nentuin tuhan, sekarang tinggal kamu yang memilih untuk berfikir sebagai orang yang menunggu kematian atau menjalani hidupmu dengan bahagia..” imbuh Erga masih dengan gaya cueknya.
“aku tak tahu berapa lama lagi aku akan hidup,sekarang ini aku hanya menjadi beban untuk orang lain..” protesku lirih
“semua orang pasti mati,kau tak akan mati besok percayalah…jangan membuat semuanya semakin sulit buatmu,suatu hari nanti hidup kita akan menjadi sama bagusnya dengan orang lain,kau akan membuat obat yang menyembuhkan semua orang sakit di dunia dan aku akan keliling dunia” Sekarang lesung pipit itu terlihat di wajahnya.
“berjanjilah meskipun kau hanya dapat hidup sehari lagi,cintailah hidupmu lakukan apapun yang kamu inginkan,lakukan apapun yang ingin kau raih selama kau masih hidup..” lanjut Erga.
Aku pun menganguk dan tersenyum di samping Erga, siang itu aku mendapat asupan energi yang berlebih,aku ingin sehat,aku ingin keluar dari rumah sakit ini,secepatnya.
          Sejak siang itu aku rajin terapi, pengobatanku pun kujalani dengan bersemangat, meskipun sedikit mual sekarang ku paksa makan lebih banyak dari biasanya, tentu saja ayah dan ibuku begitu bahagia dengan sikapku,mereka selalu menemani setiap terapiku sesibuk apapun mereka,sekarang aku tidak lagi bersikap seenaknya,karena aku tau ayah dan ibuku begitu mengkhawatirkan dan menyanyangiku. Aku kembali menjadi Vivi yang ceria seperti biasanya,meskipun kadang masih sering menangis menahan sakit. Aku merasa lebih baik dari sebelumnya,sekarang aku merindukan Erga,hampir 10 hari ini dia tidak menemuiku,setiap aku berkunjung ke kamarnya,perawat selalu bilang dia sedang menjalani pengobatan. Rumah sakit begitu sepi tanpa Erga yang tiba-tiba muncul mengejutkanku.  Setiap aku merasa putus asa aku selalu mengingat janjiku pada Erga,sudah sebulan lebih sejak kejadian siang itu,laporan kesehatanku mengalami perkembangan yang pesat,mungkin seminggu lagi setelah dipastikan tubuhku normal,aku bisa kembali kerumah,tentu saja masih harus sering cek up ke rumah sakit. Saat mendengar kabar bahagia itu aku langsung berlari menuju kamar Erga,aku ingin dia mengelus kepalaku dan mengatakan bahwa aku hebat telah melalui semua ini. Tapi disana yang kutemui hanya perawat yang menganti sprei kasur Erga. Dan dari perawat itulah aku tau Erga semalam telah menjalani transplantasi jantung,dan terjadi penolakan dalam tubuhnya, Erga meninggalkanku,iya dia meninggalkan ku selamanya.
          Aku tidak menangis,ada sesuatu yang aneh tercekat dalam tenggorokanku, aku hanya berjalan kembali ke kamarku tanpa berbicara apapun. Aku mengingat kalimat Erga ketika aku bertanya apakah dia tidak takut untuk di operasi,bagaimana jika hasilnya tidak sesuai, dia dengan enteng menjawab “tidak ada yang perlu ditakutkan,tuhan selalu menjaga kita”. Semalaman aku mengingat Erga,dia yang tiba-tiba muncul,dia yang selalu memberiku semangat, dia yang membuka mataku melihat dari sisi yang berbeda, terimakasih Ga, aku yakin disana kau akan menjadi malaikat penunggu surga damai disisiNYA.
          Itu kisahku 13 tahun yang lalu, sekarang aku sedang duduk di bangku taman dekat bangsalku dulu. Sekarang aku mahasiswi kedokteran yang sedang Koas (clerkship) dirumah sakit ini untuk pendidikan klinikku. Aku selalu mengingat Erga sebagai anak laki-laki yang selalu kuat dan pemberi semangat bagi orang-orang disekitarnya, cahaya lilin yang menerangi sekitarnya,meskipun pada akhirnya dia yang akan menghilang. Darinya aku belajar banyak hal, salah satunya yang terpatri kuat dalam ingatanku ”Jika kau dapat melihat kekuatan yang dihasilkan kasih sayang, kau akan tau bagaimana dia bekerja sehingga kau bisa merasa seperti kau dapat dapat menaklukan apapun dan bertahan melalui apapun selama kau bersama dengan orang yang kau sayangi.”
Sekarang aku akan hidup dengan banyak menyayangi orang lain, di cintai sebanyak mungkin, melakukan semua keinginanku, dan menjadi dokter yang bisa menyelamatkan Erga-Erga yang lain di luar sana.