Selasa, 18 Maret 2014

Lilin kecilku

Sekarang aku sedang menahan rasa mual yang bergejolak dalam perutku setelah beberapa kali muntah,aku benci setelah keluar dari ruangan itu,kepalaku berdenyut semakin sakit, rasa mual ini susah sekali di tahan,aku ingin sekali menangis sekeras-kerasnya, tapi aku takut itu semua akan membuat ibu semakin sedih, wajahnya saja terlihat sangat lelah sekarang. Sekarang yang harus kulakukan adalah mencoba menghentikan air mataku yang hampir jatuh dan mencoba tersenyum dengan mulutku yang terasa pahit,sungguh ini menyiksa. Aku sedikit lega ketika perawat datang dan menyuntikkan obat , sebentar lagi aku akan tertidur dan melupakan rasa sakit ini lebih cepat.
Aku terbangun terusik dengan rasa nyeri di tanganku setelah memastikan perutku sudah baik-baik saja,aku membuka mata dengan tersenyum,saat itu pertama kalinya aku melihatmu berdiri mengintip di pintu kamar, anak laki-laki seumuran denganku yang memakai pakaian rumah sakit dengan gelang biru melingkar di tangan kanan,sepertinya satu bangsal denganku.
“aku Erga,kamu baru ya disini?” ucapnya sambil mendekat ke bedku,dua lesung pipit langsung terlihat ketika dia tersenyum.
“Vivi,sudah 1 minggu disini,kamu sejak kapan?” ucapku balas memperkenalkan diri
“yang jelas lebih lama dari kamu,hehehe.. kamu tadi siang habis dari ruangan ‘itu’ ya? Hebat banget kamu gak nangis,ini biar gak mual lagi” ucapnya ringan sambil menyodorkan permen lolipop berbentuk hati.
Sejak saat itu kita menjadi teman yang akrab,rumah sakit bukan lagi tempat yang membosankan untukku,kadang kita main polisi dan penjahat, detektif dan pembunuh,hari-hari itu begitu menyenangkan. Kita bermain seperti anak-anak pada umumnya,kau membuatku tidak merasa berbeda. Bahkan ketika aku akan menerima pengobatanku itu tidak terlalu mengerikan seperti dulu karena pasti ada kamu yang membawa permen menunggu di bedku. Ketika ayah dan ibu sedang bekerja itu bukan lagi hal yang ku benci karena aku bisa bermain sepuasnya denganmu. Kita sering mengusili para perawat dengan bersembunyi ditempat rahasia saat mereka akan memasang infus kita, rasa sakitku menjadi berkurang saat aku bermain denganmu.
Siang itu aku sedang duduk di bangku taman dekat kamarku,tentu saja dengan Erga disampingku. Hari ini Erga lebih pucat, tapi tetap bersemangat seperti biasanya.
“Ga,kamu ga papa,kok pucet banget sih,demam ya?”ucapku sambil memegang kepalanya.
“Vi,apa cita-citamu saat kamu besar nanti?”ucapnya cuek mengabaikan pertanyaanku.
“ehmm,aku pengen bikin obat yang bisa nyembuhin semua orang sakit di dunia ini,jadi gak ada yang sakit lagi,yang jelas obatnya gak bikin mual hehe,,kalo kamu Ga?”
“Aku pengen jadi pilot,aku mau keliling dunia sepuasnya,kamu tau ada benua amerika, eropa,afrika disana berbeda sekali dengan di Indonesia aku ingin berkunjung ke semua tempat itu saat aku dewasa” jawabnya bersemangat.
“waktu kamu keliling dunia aku ikut ya,nanti aku mau buatin kamu obat yang bikin kamu gak sakit selamanya.”
“iya kita nanti keliling dunia bareng” ucapnya tenang dengan lesung pipit yang muncul di wajahnya.

Minggu ini aku tak bisa banyak bermain seperti biasanya,kondisi badanku mulai drop, pengobatanku biasanya 2 kali seminggu sekarang menjadi 3 kali,rasa mual selalu bergejolak dalam perutku,rambutku pun tak setebal dulu,sekarang aku lebih banyak murung dan meringkuk di bedku. Aku lebih sensitif dan sering marah,bahkan ajakan bermain dengan Erga pun ku abaikan. Saat itu aku merasa tidak adil,kenapa harus aku? Kenapa yang lain bisa ke sekolah bermain sepuasnya,sedangkan aku terkurung disini,aku ingin protes tapi pada siapa, yang kulakukan hanya meruntuki keadaanku,aku tidak mau ditemani siapapun dalam kamarku bahkan ayah atau ibuku, aku ingin pulang kerumah saat itu juga, sungguh.
Saat ayah dan ibu berangkat ke kantor kamarku sepi hanya aku yang terduduk di atas bedku, darah segar mengucur dari hidungku, aku panik karena mimisanku tidak segera berhenti, aku mulai menangis antara takut dan capek dengan keadaan ini,muncul Erga yang sudah duduk disampingku, dia dengan cepat memberi tisu dan menekan bagian bawah tulang hidungku 5 menit kemudian mimisanku berhenti tapi tangisku masih sesengukan.
“sudah,berhenti nangisnya,nanti malah keluar lagi darahnya..”ucapnya menenangkan.
“biarin,biar sekalian habis darahnya mati sekarang atau besok sama saja” gumamku
“hey berhentilah menjadi gadis yang menyebalkan,memangnya kenapa kalo kamu sakit? Jangan hanya bisa merengek itu menyebalkan..”
aku tertegun mendengar ucapan Erga,semua selalu memanjakanku,tidak ada yang memperlakukanku seperti Erga. Sejak aku sakit bersikap seperti apapun tidak menjadi masalah,semua akan mengalah. Sedikit sebal dan senang dengan perlakuannya padaku,saat itu aku hanya bisa diam.
“ kamu belum mati,jangan hidup seperti orang mati..orang menganggap hidup mereka akan berakhir saat umur mereka tua tapi umur itu yang nentuin tuhan, sekarang tinggal kamu yang memilih untuk berfikir sebagai orang yang menunggu kematian atau menjalani hidupmu dengan bahagia..” imbuh Erga masih dengan gaya cueknya.
“aku tak tahu berapa lama lagi aku akan hidup,sekarang ini aku hanya menjadi beban untuk orang lain..” protesku lirih
“semua orang pasti mati,kau tak akan mati besok percayalah…jangan membuat semuanya semakin sulit buatmu,suatu hari nanti hidup kita akan menjadi sama bagusnya dengan orang lain,kau akan membuat obat yang menyembuhkan semua orang sakit di dunia dan aku akan keliling dunia” Sekarang lesung pipit itu terlihat di wajahnya.
“berjanjilah meskipun kau hanya dapat hidup sehari lagi,cintailah hidupmu lakukan apapun yang kamu inginkan,lakukan apapun yang ingin kau raih selama kau masih hidup..” lanjut Erga.
Aku pun menganguk dan tersenyum di samping Erga, siang itu aku mendapat asupan energi yang berlebih,aku ingin sehat,aku ingin keluar dari rumah sakit ini,secepatnya.
          Sejak siang itu aku rajin terapi, pengobatanku pun kujalani dengan bersemangat, meskipun sedikit mual sekarang ku paksa makan lebih banyak dari biasanya, tentu saja ayah dan ibuku begitu bahagia dengan sikapku,mereka selalu menemani setiap terapiku sesibuk apapun mereka,sekarang aku tidak lagi bersikap seenaknya,karena aku tau ayah dan ibuku begitu mengkhawatirkan dan menyanyangiku. Aku kembali menjadi Vivi yang ceria seperti biasanya,meskipun kadang masih sering menangis menahan sakit. Aku merasa lebih baik dari sebelumnya,sekarang aku merindukan Erga,hampir 10 hari ini dia tidak menemuiku,setiap aku berkunjung ke kamarnya,perawat selalu bilang dia sedang menjalani pengobatan. Rumah sakit begitu sepi tanpa Erga yang tiba-tiba muncul mengejutkanku.  Setiap aku merasa putus asa aku selalu mengingat janjiku pada Erga,sudah sebulan lebih sejak kejadian siang itu,laporan kesehatanku mengalami perkembangan yang pesat,mungkin seminggu lagi setelah dipastikan tubuhku normal,aku bisa kembali kerumah,tentu saja masih harus sering cek up ke rumah sakit. Saat mendengar kabar bahagia itu aku langsung berlari menuju kamar Erga,aku ingin dia mengelus kepalaku dan mengatakan bahwa aku hebat telah melalui semua ini. Tapi disana yang kutemui hanya perawat yang menganti sprei kasur Erga. Dan dari perawat itulah aku tau Erga semalam telah menjalani transplantasi jantung,dan terjadi penolakan dalam tubuhnya, Erga meninggalkanku,iya dia meninggalkan ku selamanya.
          Aku tidak menangis,ada sesuatu yang aneh tercekat dalam tenggorokanku, aku hanya berjalan kembali ke kamarku tanpa berbicara apapun. Aku mengingat kalimat Erga ketika aku bertanya apakah dia tidak takut untuk di operasi,bagaimana jika hasilnya tidak sesuai, dia dengan enteng menjawab “tidak ada yang perlu ditakutkan,tuhan selalu menjaga kita”. Semalaman aku mengingat Erga,dia yang tiba-tiba muncul,dia yang selalu memberiku semangat, dia yang membuka mataku melihat dari sisi yang berbeda, terimakasih Ga, aku yakin disana kau akan menjadi malaikat penunggu surga damai disisiNYA.
          Itu kisahku 13 tahun yang lalu, sekarang aku sedang duduk di bangku taman dekat bangsalku dulu. Sekarang aku mahasiswi kedokteran yang sedang Koas (clerkship) dirumah sakit ini untuk pendidikan klinikku. Aku selalu mengingat Erga sebagai anak laki-laki yang selalu kuat dan pemberi semangat bagi orang-orang disekitarnya, cahaya lilin yang menerangi sekitarnya,meskipun pada akhirnya dia yang akan menghilang. Darinya aku belajar banyak hal, salah satunya yang terpatri kuat dalam ingatanku ”Jika kau dapat melihat kekuatan yang dihasilkan kasih sayang, kau akan tau bagaimana dia bekerja sehingga kau bisa merasa seperti kau dapat dapat menaklukan apapun dan bertahan melalui apapun selama kau bersama dengan orang yang kau sayangi.”
Sekarang aku akan hidup dengan banyak menyayangi orang lain, di cintai sebanyak mungkin, melakukan semua keinginanku, dan menjadi dokter yang bisa menyelamatkan Erga-Erga yang lain di luar sana.

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar