Sekarang
aku sedang menahan rasa mual yang bergejolak dalam perutku setelah beberapa
kali muntah,aku benci setelah keluar dari ruangan itu,kepalaku berdenyut
semakin sakit, rasa mual ini susah sekali di tahan,aku ingin sekali menangis
sekeras-kerasnya, tapi aku takut itu semua akan membuat ibu semakin sedih,
wajahnya saja terlihat sangat lelah sekarang. Sekarang yang harus kulakukan
adalah mencoba menghentikan air mataku yang hampir jatuh dan mencoba tersenyum
dengan mulutku yang terasa pahit,sungguh ini menyiksa. Aku sedikit lega ketika perawat
datang dan menyuntikkan obat , sebentar lagi aku akan tertidur dan melupakan
rasa sakit ini lebih cepat.
Aku
terbangun terusik dengan rasa nyeri di tanganku setelah memastikan perutku
sudah baik-baik saja,aku membuka mata dengan tersenyum,saat itu pertama kalinya
aku melihatmu berdiri mengintip di pintu kamar, anak laki-laki seumuran
denganku yang memakai pakaian rumah sakit dengan gelang biru melingkar di
tangan kanan,sepertinya satu bangsal denganku.
“aku Erga,kamu
baru ya disini?” ucapnya sambil mendekat ke bedku,dua lesung pipit langsung
terlihat ketika dia tersenyum.
“Vivi,sudah 1 minggu
disini,kamu sejak kapan?” ucapku balas memperkenalkan diri
“yang jelas
lebih lama dari kamu,hehehe.. kamu tadi siang habis dari ruangan ‘itu’ ya?
Hebat banget kamu gak nangis,ini biar gak mual lagi” ucapnya ringan sambil
menyodorkan permen lolipop berbentuk hati.
Sejak
saat itu kita menjadi teman yang akrab,rumah sakit bukan lagi tempat yang membosankan
untukku,kadang kita main polisi dan penjahat, detektif dan pembunuh,hari-hari
itu begitu menyenangkan. Kita bermain seperti anak-anak pada umumnya,kau
membuatku tidak merasa berbeda. Bahkan ketika aku akan menerima pengobatanku itu
tidak terlalu mengerikan seperti dulu karena pasti ada kamu yang membawa permen
menunggu di bedku. Ketika ayah dan ibu sedang bekerja itu bukan lagi hal yang
ku benci karena aku bisa bermain sepuasnya denganmu. Kita sering mengusili para
perawat dengan bersembunyi ditempat rahasia saat mereka akan memasang infus kita,
rasa sakitku menjadi berkurang saat aku bermain denganmu.
Siang
itu aku sedang duduk di bangku taman dekat kamarku,tentu saja dengan Erga
disampingku. Hari ini Erga lebih pucat, tapi tetap bersemangat seperti
biasanya.
“Ga,kamu ga
papa,kok pucet banget sih,demam ya?”ucapku sambil memegang kepalanya.
“Vi,apa
cita-citamu saat kamu besar nanti?”ucapnya cuek mengabaikan pertanyaanku.
“ehmm,aku
pengen bikin obat yang bisa nyembuhin semua orang sakit di dunia ini,jadi gak
ada yang sakit lagi,yang jelas obatnya gak bikin mual hehe,,kalo kamu Ga?”
“Aku pengen
jadi pilot,aku mau keliling dunia sepuasnya,kamu tau ada benua amerika,
eropa,afrika disana berbeda sekali dengan di Indonesia aku ingin berkunjung ke
semua tempat itu saat aku dewasa” jawabnya bersemangat.
“waktu kamu
keliling dunia aku ikut ya,nanti aku mau buatin kamu obat yang bikin kamu gak
sakit selamanya.”
“iya kita
nanti keliling dunia bareng” ucapnya tenang dengan lesung pipit yang muncul di
wajahnya.
Minggu
ini aku tak bisa banyak bermain seperti biasanya,kondisi badanku mulai drop,
pengobatanku biasanya 2 kali seminggu sekarang menjadi 3 kali,rasa mual selalu
bergejolak dalam perutku,rambutku pun tak setebal dulu,sekarang aku lebih
banyak murung dan meringkuk di bedku. Aku lebih sensitif dan sering
marah,bahkan ajakan bermain dengan Erga pun ku abaikan. Saat itu aku merasa
tidak adil,kenapa harus aku? Kenapa yang lain bisa ke sekolah bermain
sepuasnya,sedangkan aku terkurung disini,aku ingin protes tapi pada siapa, yang
kulakukan hanya meruntuki keadaanku,aku tidak mau ditemani siapapun dalam
kamarku bahkan ayah atau ibuku, aku ingin pulang kerumah saat itu juga,
sungguh.
Saat
ayah dan ibu berangkat ke kantor kamarku sepi hanya aku yang terduduk di atas
bedku, darah segar mengucur dari hidungku, aku panik karena mimisanku tidak
segera berhenti, aku mulai menangis antara takut dan capek dengan keadaan ini,muncul
Erga yang sudah duduk disampingku, dia dengan cepat memberi tisu dan menekan
bagian bawah tulang hidungku 5 menit kemudian mimisanku berhenti tapi tangisku
masih sesengukan.
“sudah,berhenti
nangisnya,nanti malah keluar lagi darahnya..”ucapnya menenangkan.
“biarin,biar
sekalian habis darahnya mati sekarang atau besok sama saja” gumamku
“hey
berhentilah menjadi gadis yang menyebalkan,memangnya kenapa kalo kamu sakit?
Jangan hanya bisa merengek itu menyebalkan..”
aku
tertegun mendengar ucapan Erga,semua selalu memanjakanku,tidak ada yang
memperlakukanku seperti Erga. Sejak aku sakit bersikap seperti apapun tidak
menjadi masalah,semua akan mengalah. Sedikit sebal dan senang dengan
perlakuannya padaku,saat itu aku hanya bisa diam.
“ kamu belum
mati,jangan hidup seperti orang mati..orang menganggap hidup mereka akan
berakhir saat umur mereka tua tapi umur itu yang nentuin tuhan, sekarang tinggal
kamu yang memilih untuk berfikir sebagai orang yang menunggu kematian atau
menjalani hidupmu dengan bahagia..” imbuh Erga masih dengan gaya cueknya.
“aku tak tahu
berapa lama lagi aku akan hidup,sekarang ini aku hanya menjadi beban untuk
orang lain..” protesku lirih
“semua orang
pasti mati,kau tak akan mati besok percayalah…jangan membuat semuanya semakin
sulit buatmu,suatu hari nanti hidup kita akan menjadi sama bagusnya dengan
orang lain,kau akan membuat obat yang menyembuhkan semua orang sakit di dunia
dan aku akan keliling dunia” Sekarang lesung pipit itu terlihat di wajahnya.
“berjanjilah meskipun
kau hanya dapat hidup sehari lagi,cintailah hidupmu lakukan apapun yang kamu
inginkan,lakukan apapun yang ingin kau raih selama kau masih hidup..” lanjut Erga.
Aku pun
menganguk dan tersenyum di samping Erga, siang itu aku mendapat asupan energi
yang berlebih,aku ingin sehat,aku ingin keluar dari rumah sakit ini,secepatnya.
Sejak siang itu aku rajin terapi,
pengobatanku pun kujalani dengan bersemangat, meskipun sedikit mual sekarang ku
paksa makan lebih banyak dari biasanya, tentu saja ayah dan ibuku begitu
bahagia dengan sikapku,mereka selalu menemani setiap terapiku sesibuk apapun
mereka,sekarang aku tidak lagi bersikap seenaknya,karena aku tau ayah dan ibuku
begitu mengkhawatirkan dan menyanyangiku. Aku kembali menjadi Vivi yang ceria
seperti biasanya,meskipun kadang masih sering menangis menahan sakit. Aku
merasa lebih baik dari sebelumnya,sekarang aku merindukan Erga,hampir 10 hari
ini dia tidak menemuiku,setiap aku berkunjung ke kamarnya,perawat selalu bilang
dia sedang menjalani pengobatan. Rumah sakit begitu sepi tanpa Erga yang
tiba-tiba muncul mengejutkanku. Setiap
aku merasa putus asa aku selalu mengingat janjiku pada Erga,sudah sebulan lebih
sejak kejadian siang itu,laporan kesehatanku mengalami perkembangan yang
pesat,mungkin seminggu lagi setelah dipastikan tubuhku normal,aku bisa kembali
kerumah,tentu saja masih harus sering cek up ke rumah sakit. Saat mendengar
kabar bahagia itu aku langsung berlari menuju kamar Erga,aku ingin dia mengelus
kepalaku dan mengatakan bahwa aku hebat telah melalui semua ini. Tapi disana
yang kutemui hanya perawat yang menganti sprei kasur Erga. Dan dari perawat
itulah aku tau Erga semalam telah menjalani transplantasi jantung,dan terjadi
penolakan dalam tubuhnya, Erga meninggalkanku,iya dia meninggalkan ku
selamanya.
Aku tidak menangis,ada sesuatu yang
aneh tercekat dalam tenggorokanku, aku hanya berjalan kembali ke kamarku tanpa
berbicara apapun. Aku mengingat kalimat Erga ketika aku bertanya apakah dia
tidak takut untuk di operasi,bagaimana jika hasilnya tidak sesuai, dia dengan
enteng menjawab “tidak ada yang perlu ditakutkan,tuhan selalu menjaga kita”.
Semalaman aku mengingat Erga,dia yang tiba-tiba muncul,dia yang selalu
memberiku semangat, dia yang membuka mataku melihat dari sisi yang berbeda,
terimakasih Ga, aku yakin disana kau akan menjadi malaikat penunggu surga damai
disisiNYA.
Itu kisahku 13 tahun yang lalu,
sekarang aku sedang duduk di bangku taman dekat bangsalku dulu. Sekarang aku mahasiswi
kedokteran yang sedang Koas (clerkship) dirumah sakit ini untuk pendidikan
klinikku. Aku selalu mengingat Erga sebagai anak laki-laki yang selalu kuat dan
pemberi semangat bagi orang-orang disekitarnya, cahaya lilin yang menerangi
sekitarnya,meskipun pada akhirnya dia yang akan menghilang. Darinya aku belajar
banyak hal, salah satunya yang terpatri kuat dalam ingatanku ”Jika kau dapat
melihat kekuatan yang dihasilkan kasih sayang, kau akan tau bagaimana dia
bekerja sehingga kau bisa merasa seperti kau dapat dapat menaklukan apapun dan
bertahan melalui apapun selama kau bersama dengan orang yang kau sayangi.”
Sekarang
aku akan hidup dengan banyak menyayangi orang lain, di cintai sebanyak mungkin,
melakukan semua keinginanku, dan menjadi dokter yang bisa menyelamatkan Erga-Erga
yang lain di luar sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar